Vicky Hariadi

Tagged

#ai

6 opinions all opinions

AI bikin siapa pun bisa dapat hasil seketika. Tapi dapat hasil itu tidak sama dengan dapat hasil yang benar.

Engineer berpengalaman bikin yang kecil dulu, lihat apa yang rusak, pahami kenapa, lalu perbaiki. AI bikin semua itu gampang sekali dilewati.

AI bikin nulis kode jadi lebih murah. Dan bikin kemampuan memahami kode jadi lebih berharga.

Bottleneck-nya bergeser, dari “Bisa tidak Anda menghasilkan kode ini?” jadi “Bisa tidak Anda menilai kode ini benar-benar bagus atau tidak?”

Nemu meme lucu:

Saya yang ngoding, Anda yang review: $500
Anda yang vibe-coding, saya yang review: $5.000

Vibe coding memang bikin ongkos bangun software jadi lebih murah, tapi merawat software yang dibangun asal-asalan bisa jauh lebih mahal.

Kata Kent Beck, “I’m not a great programmer; I’m just a good programmer with great habits.” Kebiasaannya itu yang tidak ikut kebawa ke model. Kodenya jadi, tapi tidak ada dorongan sedikit pun buat nulis test dulu, pair di bagian yang susah, atau berhenti dan refactor selagi masih hijau.

Masalah aplikasi yang dibikin AI dalam satu akhir pekan itu bukan kodenya. Tapi waktu rusak hari Sabtu, cuma ada satu orang yang bisa membukanya, dan orang itu Anda.

Dibikinkan persis seperti yang diminta. Tidak ada yang minta backup, jadi backup-nya memang tidak ada. AI-nya bukan ceroboh. Dia nurut, dan itu yang jauh lebih susah kelihatan.

Sapa saya